Top Ad 728x90

Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Sejarah terbentuknya batu batuan granit raksasa Belitung

by

Kalau kita melakukan perjalanan, atau berwisata ke Belitung, pastilah kita akan menemukan Batu-batuan granit, adalah salah satu hal yang menjadi objek pariwisata yang penting. Kenapa? Jelas karena batu-batuan granit di tepi pantai adalah hal yang tidak dimiliki oleh rata-rata pantai lainnya di Indonesia. Ini adalah anugerah untuk Pulau Belitung. Tetapi, by the way... apa yang yang menyebabkan terciptanya batu-batuan granit yang besar ini di Belitung?

SEJARAH TERBENTUKNYA BATU-BATUAN GRANIT BELITUNG
“DIMULAI SEJAK ZAMAN DINOSAURUS”
Batu-batuan granit ini mulai nongkrong sejak zaman Dinosaurus (Era Triassic, Jurrasic, sampai zaman kapur). Benda-benda ini mulai dikerjakan oleh Tuhan melalui alamnya, 200 hingga 65 juta tahun yang lalu! Coba deh cek buku Peta Geologi, Lembar Belitung, yang dikaryakan oleh Baharuddin dan Sidarto, pada tahun 1995). Magma adalah bahan dasar pemasakan batuan granit, magma bersifat asam... dicampur dengan kandungan silika yang berkisar lebih dari 65%.
“TERBENTUK DARI TRIASSIC ERA”
Jelas sekali bahwa empunya batu granit, berasal dari zaman Triassic. Penyebarannya ada di sebelah barat laut Belitung Island (Pulau Belitung), lokasi-lokasi wisata yang terkenal seperti Pantai Tanjungtinggi, Pulau Lengkuas, dan Pulau Kepayang, menerima penyebaran batu yang sudah sangat tua ini. Kalau dilihat dari photo, kita tahu sendiri kalau bentuk bongkahan granit Pulau Belitung (khususnya yang dari zaman Triassic) berwarna abu-abu, sedikit terang, kristalnya kasar, dan ada yang lebih terasa kasar lagi. Mineral kasiterit primer adalah mineral yang banyak terdapat di dalam batuan yang berumur 208 sampai 245 juta tahun ini. (Penyelidikan Priem et al, di tahun 1975 - masih dalam buku Baharuddin dan Sidarto, tahun 1995).
“PEMBENTUKAN DI ZAMAN JURASSIC”
Setelah terjadi pada zaman Triassic, instrusi lainnya juga terjadi di zaman Jurassic (jadi inget film Jurrasic Park, hehehe). Batu-batuan yang usianya berkisar 106 - 245 juta tahun ini (masih di Penyelidikan Priem et al, di tahun 1975 - masih dalam buku Baharuddin dan Sidarto, tahun 1995), sebarannya ada di selatan Belitung. Termasuk dengan pantai Penyabungan (Penyabong), Pantai Klumpang, sampai bukit Baginda (Bukit Baginde). Batuan granit dari zaman Jurassic ini banyak ditemui Xenolit (bahan mineral yang mampir ke dalam instrusi), warnanya abu-abu - ada yang kehijauan, butirannya kasar, dan tidak mengandung kasiterit.
“CRETACEOUS ATAU ZAMAN KAPUR”
Lantas, dimana "The Youngest one?". Yang paling muda berasal dari zaman Cretaceous alias Zaman Kapur. Berwarnya lebih gelap (pada umumnya), tersebar mulai dari pantai Burung Mandi sampai Air Dengong. Mineral yang banyak ditemui adalah felspar. Butirannya sedang, tidak kasar. (Hasil penyelidikan Priem et al di tahun 1975, kembali melalui referensi dari Baharudin dan Sidarto, tahun 1995). Umur dari batuan granit paling muda ini berkisar antara 115 - 106 juta tahu yang lalu.
“KOK BISA TERJADI YA?”
Ceritanya begini, pembekuan granit terjadi jauh dai kedalaman puluhan meter dari perut bumi. Kemudian pembekuan itu membentuk batolit, yang secara proses tektonik, akhirnya mengalami peretakan dan pematahan karena terjadinya pengangkatan. Karena proses tektonik itulah akhirnya batu granit yang membeku itu muncul dari perut menuju permukaan bumi.
“PERISTIWA DEFORMASI”
Ada sesuatu yang terjadi lagi. Disebut sebagai peristiwa "deformasi". Deformasi ini akhirnya membuat batu-batuan granit yang membeku itu menjadi retak-retak - dalam perjalanan menuju permukaan bumi. Setelah mereka sampai, batu-batuan itu kembali mengalami "cobaan di dunia" yang berupa proses pelapukan, abrasi, hingga erosi. Tiga proses ini bagaikan "The Three Musketeers" yang meretakkan dan memecahkan permukaan batu granit. Pelan tapi pasti, setelah dilakuan berulang-ulang mulai dari ratusan hingga lebih dari ribuan tahun, bongkahan-bongkahan yang ada jelas akan terpecah-pecah, dan terpisah-pisah, seolah-olah mereka tercipta sendiri-sendiri... padahal, mereka adalah awalnya adalah bagian dari kesatuan utuh yang muncul dari perut bumi.
“WAJAH PANTAI WISATA BELITUNG”
Benar-benar luar biasa ya? Kehadiran batuan granit di pantai Belitung akhirnya menambah daya dukung pariwisata, dan keindahan destinasi. Belum lagi, dengan adanya lereng-lereng batuan granit yang juga tercipta di bawah laut. Membuat Pulau Belitung semakin berharga untuk dikunjungi, guys! Jadi, jika anda tertarik untuk melihat dan mengabadikan keajaiban granit Belitung yang telah terbentuk sejak zaman triassic, segera hubungi kami.

TERTARIK INGIN KE BELITUNG?
KONTAK KAMI
“PAKET MURAH WISATA BELITUNG”

Sejarah Museum Tanjungpandan Belitung

by
Belitung Imaji Tour, banyak jenis destinasi yang terdapat di Pulau Belitung, mulai dari destinasi yang berada di sekitar pantai, kota, hingga gunung. Bagaimana dengan destinasi wisata yang berbasis sejarah? Apakah Pulau Belitung punya? YA! Sekarang, mari kita melirik ke dalam museum Tanjungpandan.

SEJARAH MUSEUM TANJUNGPANDAN
“DIILHAMI DARI PENELITI ASAL BELANDA”
Awalnya Museum Tanjungpandan disebut sebagai museum geologi. Diilhami oleh seorang peneliti asal Belanda di zaman penjajahan, dan museum Tanjungpandan dibangun oleh Dr. Chaerul Saleh yang kala itu mejabat sebagai Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan. Dr. Chaerul Saleh sendiri mejabat sebagai menteri mulai dari bulan Juli 1959 sampai tanggal 28 Maret 1966.
“DIPINDAHKAN DARI RANCANGAN AWAL”
Dr. R. Osberger - selaku ahli geologi dari Austria, segera melaksanakan perintah yang datang. Dr. R. Osberger adalah Kepala Dinas Eksplorasi dan Geologi, di PT. TIMAH yang berpusat di Kepala Kampit. Rencananya, museum akan dibangun disana, tetapi akhirnya dipindahkan ke pusat kota Tanjungpandan. Hal ini dikarenakan Ir. MEA Apitule selaku Direktur Utama PT. TIMAH, ingin memudahkan akses bagi pihak-pihak yang ingin melakukan kunjungan.
“AWALNYA GEDUNG KANTOR KEPALA TAMBANG TIMAH”
Setelah diputuskan, kemudian dibangun, Museum Tanjungpandan akhirnya bertempat di gedung tua yang sempat dijadikan kantor dari NV Billiton Maatschappij, gedung kantor yang semula adalah tempat bersemayamnya Kepala Penambangan dari zaman Belanda yang memfokuskan untuk menggali timah Belitung. Sekarang, museum Tanjungpandan masih tetap berdiri. Banyak sekali barang-barang bersejarah yang ditempatkan disana, mulai dari kendi dari dinasti china, hingga  beragam pusaka peninggalan kerajaan di Belitung. Anda penasaran dan ingin mengunjunginya? Hubungi Belitung Imaji Tour.

TERTARIK INGIN KE BELITUNG?
KONTAK KAMI
“PAKET MURAH WISATA BELITUNG”

Di balik layar Laskar Pelangi Film

by
Catatan Julian Aditya
Team Leader Belitung Imaji Tour
Asisten koodinator local talent (Belitung), Laskar Pelangi Film 
Anak-anak Laskar Pelangi yang saya foto disela-sela shooting
Sebelum saya menceritakan pengalaman ini, pertama-tama saya harus mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan dari Miles Film dan Mizan Cinema karena telah menerima saya bergabung dan bekerja sama di Laskar Pelangi film sebagai salah satu dari assistent Talent Coordinator. Ini adalah pengalaman yang sangat membanggakan, mengingat film ini adalah salah satu film fenomenal dan boleh dikatakan sebagai salah satu dari yang terlaris di Indonesia.

    Sahabat Al-Imaji ( Belitung Imaji Tour ), Laskar Pelangi film yang diproduseri Mira Lesmana, disutradari Riri Riza, dan diangkat dari novel karya Andrea Hirata memang banyak membuat kehebohan disana-sini. Salah satu kekuatan film tersebut adalah para pemainnya, yang menggabungkan kekuatan akting para aktor/aktris kawakan bersama pemeran anak-anak Laskar Pelangi yang notabene tidak pernah memasuki dunia perfilman sama sekali. Anak-anak itu memang masih hijau, tapi sudahberhasil menyihir jutaan penikmat film Indonesia. Mungkin ada yang bertanya, apakah mencari talent lokal dikala itu, mudah? Jawabannya tidak! Berikut ini, saya memaparkan sedikit pengalaman yang saya dapat sejak awal Maret 2008 yang lalu.
Di sungai Samak (Belitung) dengan salah satu peserta casting
MEMBUKA CASTING SAMA DENGAN MENGAJARKAN CARANYA SEKALIGUS.
Ini adalah tantangan pertama yang saya dapat. Lokasi Shooting Laskar Pelangi Film bertempat di lokasi aslinya, Pulau Belitung sekaligus kampung saya sendiri. Bagi yang tinggal di Jakarta, Bandung, dan sekitarnya tentu sudah banyak yang tahu bagaimana proses sebuah casting dilaksanakan. Apalagi yang sudah masuk talent agency atau yang punya mimpi untuk menjadi artis yang wajahnya selalu terpampang di televisi, bioskop, atau banner sebuah produk. Casting di Belitung, adalah sebuah hal yang sangat langka sekaligus merepotkan. Bayangkan apabila ada 100 orang yang datang, 100 orang itu harus kita ajarkan bagaimana cara melihat dan membaca skrip, gambaran peran dari apa yang ia baca disitu, termasuk bagaimana dan apa yang harus ia lakukan apabila berhadapan dengan para penilai nanti. Kalau yang datang anak-anak, kadang-kadang kita harus menjelaskan cara casting ini di depan orang tuanya... cabe deh...

    Ada pengalaman lucu yang pernah didapat dari proses ini. Suatu ketika yang datang casting itu bapak-bapak dengan usia 40-an. Ia sangat bernafsu sekali untuk tampil di film setidak-tidaknya jadi pemeran pembantu yang wajahnya kelihatan (untung ada skrip yang dibuat khusus untuk peran dengan karakter tersebut walaupun akhirnya dihapus dari sutradara). Setelah panjang lebar saya menjelaskan, akhirnya ia bertanya... bagaimana cara latihan membaca skrip. Saya jawab : "Bayangkan di depan ada lawan bicara anda yang ikut main film nanti". Kemudian saya meninggalkannya di ruang tunggu dengan harapan "mudah-mudahan ia mengerti". Akhirnya, setelah beberapa saat berlalu. Saya kembali keruang tunggu, dan ternyata mendapati ruangan yang sudah kosong dimana tadinya dipenuhi oleh para peserta casting! Saya panik karena mereka menghilang, saya takut terjadi sesuatu akibat omongan saya tadi. Akhirnya setelah saya cari dengan tergopoh-gopoh, untunglah ternyata mereka tidak pulang  kembali ke rumah masing-masing. Mereka semuanya ada dibelakang ruang tunggu dan sedang sibuk berbicara sendiri sesuai instruksi yang saya katakan ke bapak tadi! (Padahal anjuran saya bukan untuk mereka semua loh.. ) Sang bapak itulah yang mengajak mereka semua, dan ia pun saya lihat sangat berusaha menjiwai perannya semaksimal mungkin dengan berbicara sendiri sambil menunjuk-nunjuk tembok tebal ruang tunggu casting! Yaelah pak, kok pada ngajak gila orang sekampung seeeeh...???
Diatas truck bersama para pemain figuran dari Gantong
BENAR-BENAR HUNTING, GARA-GARA BANYAK YANG TIDAK PERCAYA.
Memang pada saat itu proses casting Laskar Pelangi Film tidak dipublikasikan oleh media lokal baik cetak maupun elektronik. Ini dikarenakan sang asisten sutradara tidak menginginkannya karena takut pusing dengan tawaran-titipan. Singkatnya, proses casting dilakukan dengan cara mengajak orang yang ditemui. Inilah tantangannya,masyarakat Belitung dikala itu benar-benar "blank" dan skeptis. Tidak jarang saya harus memberi penjelasan "bahwa ini benar" kepada orang yang cerewet dan menuduh saya sebagai "tukang isu". Adapun saat proses hunting disekolahan untuk mencari para calon pemeran Laskar Pelangi film, saya selalu masuk ruang kepala sekolah dengan waktu yang cukup lama untuk menjabarkan benar-tidaknya persoalan ini. Bahkan ada guru yang bertanya asal usul saya, siapa orang tua, dimana rumahnya, sebelumnya bekerja sebagai apa, pulang merantau darimana, wah... cabe lagi deh!

    Kejadian yang paling edan dari hunting ini ada di SDN 44 Perawas (Kab. Belitung) yang menyumbang pemeran A-Kiong ( Suhendri, red ). Saat itu saya tiba disana sudah pukul setengah 12 siang. Saya datang terlambat, karena waktu jam sekolah sudah hampir habis dan terlalu banyak sekolah yang harus didatangi kalau dilanjutkan besok. Akhirnya saya memutuskan, untuk hunting sambil melihat mereka pulang dari sekolah itu.
    "Treeeeet!!!! Treeeet! Treeeeet!"
    Suara bel pun muncul, anak-anak SD 44 keluar. Saya menunggu untuk melihat penampakan mereka sambil duduk diatas motor dengan jaket kulit, celana jeans, dan rokok kretek murahan dimulut. Masing-masing dari mereka saya lihat dengan sangat detil, setelah 10 menit barulah anak dengan spesifikasi yang saya inginkan muncul! Anak itu adalah Suhendri ( A-Kiong ) yang pulang berjalan kaki kerumah, tidak ingin dia berlalu... saya pun langsung turun dari motor dan berjalan kearahnya. Disinilah yang muncul petaka! Melihat saya orang asing dan tampak antusias sekali, Suhendri malah kaget. Sialnya, dia mengira saya penculik! Ia pun lari, mau tak mau saya mengejar! ( Saking antusiasnya saya waktu itu saya lupa kalau besok kan bisa kembali lagi? ya toh?? ). Akhirnya tak berapa lama pun, terpaksa Suhendri saya tangkap seperti seperti seorang kekasih yang lari dari pacarnya. Anak-anak SDN 44 yang lain langsung segera mengerubungi saya bersama orang tua mereka, kemudian ada pak Guru yang menghampiri dengan wajah sangar dan nada tinggi! Waduh, saya terlihat seperti seorang buronan kala itu! perlu waktu lama untuk meyakinkan mereka dan Suhendri agar mempercayai apa yang saya katakan. Ah,buah perbuatan yang terlalu terburu-buru... ingin memberi kejutan, eh malah saya yang dikejutkan! Jiaaah!
Para pemain figuran wanita, untuk adegan pawai di Gantong
SUDAH MENCARI PEMERAN UTAMA SUSAH, FIGURAN MALAH LEBIH SUSAH LAGI!
Setelah proses yang saya lakukan selama dua bulan sudah mendapatkan progress yang lumayan, semua anak-anak pemeran laskar pelangi sudah mempunyai calon yang pas dari dua tantangan besar tadi. Tantangan selanjutnya yang cukup melelahkan adalah bagaimana caranya mengajak masyarakat dengan jumlah yang besar untuk menjadi pemeran figuran. Sekitar satu bulan Shoot di daerah Gantong ( Belitung Timur ), jumlah figuran yang harus saya dapatkan adalah minimal 250 orang! Jumlah ini memang kecil kalau shooting didaerah lain yang sudah kenal bagaimana proses sebuah film apalagi ada agency. Kalau di Belitung, ini merupakan sebuah ujian. Berikut rinciannya :
* Apabila saya mencari pemeran figuran dengan karakter para pekerja dan penambang timah, bapak-bapak disana saat itu bertanya : "Aku dapat berape untuk syuting dari subo sampai sure ari? (Saya dapat uang berapa untuk shooting dari subuh ke sore hari?)". Saya jawab apa adanya : "50.000 Rupiah pak!". Lantas mereka tertawa dan memberi tanggapan seperti ini : "Hahaha, aku kalok nambang tima setenga ari la dapat duit sepulo kali lipat dari nok diberik kao! (Hahaha, saya kalau nambang timah beneran, setengah hari bisa dapet uang sepuluh kali lipat dibandingkan yang dikasih dari kamu!)".
* Jika saya membutuhkan rombongan ibu-ibu untuk mengisi film ini, dengan tampang yang serius ibu-ibu itu sering bertanya : "Bang, muke kamek ne kan keliatan benar ke di tipi kini!?! (Bang, wajah kita ini apa benar nanti bisa dilihat di tv??)". Saya jelaskan kalau ini bukan shooting sinetron melainkan layar lebar, dan posisi mereka bukanlah sebagai pemeran utama yang harus muncul wajahnya sesering mungkin. Lalu inilah jawaban mereka :"Yaaa, ndak seru la mun kamek dak masok tipi! dak nak la eh... ( Yaaa, nggak seru dong kalo kita ini nggak masuk tv, nggak mau ah!)". Dibilang nanti akan masuk bioskop, di Belitung nggak bisa nonton bioskop. Disuruh agar nonton VCD/DVD-nya nanti, bakalan nggak ada yang original... wah, kejebak pembajak dong gue!?!
Crew Laskar Pelangi Film di sunset Tanjung Tinggi
Itu hanyalah sekelumit tanggapan dari mereka, intinya... apabila kita mengajak dengan posisi sebagai kru film, dijamin 80% tidak ada yang mau! Jangankan saya, yang mengepalai divisi saya aja bingung. Akhirnya saya memutuskan untuk membujuk mereka lewat cara pemanfaatan kedekatan emosional ala agen spionase. Konsekuensinya, jauh-jauh hari sebelum shooting dimulai saya harus pindah domisili dari Tanjungpandan (Kab. Belitung) ke Gantong! Setelah itu barulah saya nongkrong sebagai anak muda yang gaul, saya ikut pengajian di mesjid bersama rombongan bapak-bapak ibu-ibu majelis, saya sering menyambangi lokasi pertanian dan transmigrasi sebagai orang yang ingin belajar bercocok tanam, saya duduk menghabiskan waktu di warung kopi dan akrab dengan bapak-bapak penambang, tidur di kantor camat karena ingin dekat dengan pegawainya, akrab dengan mantan ketua preman pasar, mantan pendekar,  pokoknya tiada hari tanpa sosialisasi dan saya tampak bagaikan seorang pengangguran kelas berat yang sedang cari kerja disana-sini!

Anak-anak Laskar Pelangi dan Cut Mini (Bu Mus) di Tanjung Tinggi
Hehehe, yah... itu adalah sedikit pengalaman yang saya dapatkan dan sebenarnya masih banyak lagi... Untung aja percaya dengan istilah "Dimana ada kemauan, disitu ada jalan!". Walaupun rada susah, meskipun agak merepotkan... proses casting selesai dengan lancar begitu juga dengan shootingnya! Thanks 4 all crew yang membantu, thanks for talent, dan terima kasih juga kepada sahabat dan para tamu dari Imaji Tour yang telah membaca tulisan ini.

INFORMASI LAINNYA, KLIK LINK DIBAWAH INI :

Top Ad 728x90